Menengok Tugu Perabuan Jepang di Kelurahan Pamusian, Kota Tarakan, Kalimantan Timur


Sering Dikunjungi Wisatawan Mancanegara, Sering Muncul Penampakan

Tempat wisata bersejarah memang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Selain makam keramat yang mengisahkan tentang 2 orang wali yang juga penginjak pertama kali di bumi Tarakan, juga ada situs yang masih berdiri hingga sekarang, yaitu tugu perabuan Jepang. Tugu yang dibuat untuk tempat berdoa kepada arwah pejuang jepang di Tarakan.

Tugu yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol Gang 3 RT (Rukun Tetangga) 23, Kelurahan Pamusian, Kecamatan Tarakan Tengah ini sering dikunjungi para wisatawan domestik maupun  mancanegara. Menurut Baharuddin, penjaga tugu perabuan, para wisatawan yang berkunjung di tugu itu dari segala penjuru daerah nusantara bahkan banyak juga yang dari mancanegara. “Ada yang dari Australia, Malaysia hingga Jepang,” teranya kepada Kaltara Pos.
Penjaga tugu bersejarah ini turun temurun. Berawal dari orangtua Baharuddin yang lebih dulu menjaga tugu tersebut sejak 1943 hingga 1975, kemudian diturunkan ke dirinya. Baharuddin mengaku hingga saat ini masih sering berkomunikasi dengan para wisatawan, terutama wisatawan Jepang. Keeksotisannya yang membuat wisatawan meminta Baharuddin untuk mengurus dengan baik.
Untuk mencapai tugu perabuan Jepang di gang 3 Jalan Imam Bonjol itu, kita pasti akan menjumpai sebuah sumur tua yang berukuran 1x1 meter. Sumur tersebut dibuat pada zaman Jepang oleh orang China yang hingga kini airnya masih bersih dan masih dipakai untuk dikonsumsi oleh warga sekitar. Selain untuk dikonsumsi, warga juga mempergunakannya untuk hal lainnya.
Sementara ukuran tugu sendri sekitar 1 x 1 meter dan tingginya sekitar 2 meter. Pada bagian depan tugu tersebut terdapat tulisan yang berhurufkan kanji dan dibawahnya terdapat wadah sebagai tempat peletakan dupa untuk berdoa. Namanya memang tugu perabuan, namun perlu diketahui menurut Baharuddin abu-abu jenazah pejuang jepang tersebut telah dibawa ke Jepang. Setelah dikremasi, abu-abu tersebut didoakan dibawah tugu tersebut dan kemudian dibawa ke Jepang.
Ditempat itu terdapat 59 buah tugu kecil yang dijadikan simbol jumlah jenazah pejuang Jepang dan sekarang hanya tinggal 29 buah tugu saja. “30 lainnya sudah tertimbun oleh bangunan rumah warga sekitar area,” ucap Baharuddin. Para penghuni tugu tersebut dulunya bukan hanya para pejung Jepang, tapi ada juga terdapat para pedagang dari bangsa Jepang sendiri.
Boleh percaya atau tidak, ditempat itu juga sering terjadi hal-hal mistik yang pernah dialami oleh warga, pangunjung, bahkan para pekerja bangunan tembok dulu yang pernah dikerjakan oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga. “Dulu sudah pernah saya larang untuk tidak menebang pohon nangka yang berada dipojokan sana. Tapi mereka tidak hiraukan sehingga banyak dari mereka yang kesurupan,” kisah Baharuddin. Selain itu, kejadian janggal lainnya pun terjadi yang pernah di alami oleh warga sekitar. “Pernah itu ditangga masuk, warga melihat penampakan pejuang jepang tanpa kaki dan seorang perempuan berbaju putih,” terangnya.
Melihat kejadian tersebut, dia pun melarang para wisatawan untuk bermain didaerah dekat pohon nangka tersebut. Karena pohon nangka tersebut diperkirakan tempat angker yang berada di areal tugu.
Baharauddin juga mengatakan bahwa disana terdapat sebuah pedang katana dan sebuah tongkat komandan. Hingga sekarang, meskipun telah banyak yang mencoba untuk mengambil barang gaib tersebut tapi tetap saja tidak ada yang berhasil. Barang tersebut bahkan dihargai hingga bermiliar rupiah oleh para kolektor barang antik.
Baharuddin berharap pihak dinas pariwisata membantu dalam mensejahterakan pengurus tugu tersebut. Karena menurutnya pihak dinas pariwisata kurang tanggap dalam menanggapi keluhan para penjaga tugu. Tak terlebih baharuddin, yang mengaku pendapatan dan kerjaannya tidak sesuai. Namun berkat tulus hatinya, tugu perabuan tersebut masih berdiri hingga sekarang.

Postingan Populer