Mekipun Suka Sama Suka, Tetap Tidak Secara Hukum


RZ yang beberapa waktu lalu berhasil di amankan dikantor satpol pp kota tarakan
TARAKAN – tindakan asusila yang sering terjadi ditarakan belakangan ini, membuat perhatian publik menjadi semakin terfokus padanya. Tak terlebih pada kasus yang sabtu (5/5) kemarin yang terdapat sepasang kekasih yang sedang memadu kasih di atas kloset perumahan PNS juata permai.

Dengan kejadian itu, kepala badan pemberdayaan anak dan perempuan, Maryam mengatakan bahwa sungguh memprihatinkan kelakuan anak remaja pada zaman sekarang ke depannya. Karena tindakan asusila ini telah banyak memakan korban, dan sayangnya lagi korbannya yang tak lain adalah perempuan. Perempuan disini selalu dikatakan korban karena telah dirugikan meskipun sebenarnya mereka sama-sama merugi, selain itu secara fisik perempuan kalah dengan laki-laki. “Anak-anak yang belum cukup umur pada dasarnya belum cocok untuk mengalami masa kehamilan apalagi masih muda, sangat rentan sekali janin bahkan ibunya meninggal dunia,” ucapnya.

Dewasa ini, para remaja tak canggung-canggung untuk melakukan tindakan asusila ini. Dan tak jarang ada juga yang mengaku bahwa mereka melakukan karena suka sama suka. “Meskipun begitu, kelakuan mereka tetap saja salah. Dan yang pria harusnya dihukum 15 tahun penjara,” terangnya. Namun dia menambhakan, bahwa tidak menutup kemungkinan hukuman penjara itu gugur apabila kedua belah  pihak saling menerima dalam artian akan menikahkan keduanya.

Kenapa tarakan sering terjadi tindakan asusila ini? Karena tarakan merupakan kota transit dan kota yang memiliki multietnis, sehingga dunia global dapat dengan mudahnya merebak dikalangan remaja. Contohnya saja Internet, dengan mudahnya semua kalangan untuk mengakses segala perihal dunia dan termasuk juga untuk yang berbau porno. “Keunggulan IT ini sering disalah gunakan oleh sebagian remaja, kadang alasan izin ke warnet cari tugas tapi lain yang dibuka,” ucap Maryam.

Adapun penyebabnya mereka banyak yang terjerumus dengan hal negatif tersebut karena pergaulan, kemungkinan globalisasi tadi dan akibat kurang perhatiannya orangtua. Dengan begitu, patutnya orangtua harus mengawasi pergerakan anak-anaknya jikalau ada hal yang dikira mencurigakan dan tak wajar. “Setidaknya kita tahu apa yang dilakukan disekolah, tempat bimbel, dan lainnya, agar  kita tahu benear atau tidaknya suatu keadaan,” jelasnya.

Pihaknya sering melakukan pendampingan bagi perempuan yang menjadi korban  tindak asusila untuk digiring kearah yang lebih positif. “Kalau misalnya sudah dinikahkan, setidaknya ditunda dulu untuk hamil. Karena resikonya tinggi,” tutupnya.

Postingan Populer