Bagaimana Perceraian itu terjadi??
Banyak
diantara kita tidak menyadari bahwa berharganya suatu pernikahan itu, karena
pernikahan itu bagusnya hanya sekali dalam hidup ini. Namun tak jarang juga
orang berpoligami atau beristri lebih
dari satu. Yang akhirnya cemburu dan berujung pada perceraian, bagaimana bisa?
Pernikahan
merupakan hal yang sakral untuk dilakukan, yang berarti dalam melakukan
pernikahan pasangan tersebut haruslah serius atau benar-benar tulus untuk
melanjutkan hidup bersama-sama. Namun tak banyak pula masyarakat kita yang
mengartikan sebuah pernikahan itu hanya untuk membuat keturunan dan menurunkan
marga dalam suatu keluarganya. Semua pikiran seperti itu haruslah kita buang
jauh-jauh agar persepsi kita tidak salah kaprah.
Pernikahan
yang indah itu, pasti diawali dengan banyak pengorbanan dalam mendapatkan cinta
seseorang yang dicintainya. Baik pengorbanan berupa materi, waktu, dan lainnya,
dan itu pun haruslah keduanya yang bisa saling mengorbankan dan saling
menutupi. Namun sekarang, hanya salah satu pihak saja yang harus berkorban
dalam mendapatkan pasangan hidup. Itu tidak lain adalah kaum laki-laki yang
harus banyak berkorban untuk berkorban demi perempuan, meskipun ada juga yang
pihak perempuan yang berkorban bagi laki-laki.
Untuk
menyatakan sebuah janji sehidup semati itu, memanglah sangat mudah untuk
dikatakan. Namun bagi kebanyakan masyarakat kita dan mungkin termasuk kita, itu
sulit untuk menerapkannya dalam kehidupan berumah tangga. Pertengkaran adalah
salah satu bumbu cinta dalam suatu hubungan, namun jika tidak dipikir dengan
hati nurani maka akan terjadi suatu percekcokan yang lebih panjang. “Kebanyakan
masyarakat kita sekarang menganggap pasangannya seperti barang. Kalau ada yang
lebih bagus, kenapa tidak?” ucap Sopian Riduan, yang kebetulan menjabat sebagai
Kepala Kantor Urusan Agama di Kecamatan Tarakan Barat.
Dengan
mindset seperti itu, pasangan
tersebut sangat rentan akan yang namanya perceraian. Karenanya pikiran pokok
seperti haruslah dirubah semasa belum terjadi. “Kalau akhir dari pernikahannya
seperti itu (cerai), maka dapat dipastikan salah satu bahkan kedua pasangan
tersebut tidak ditanamnya rasa cinta. Bisa disebut juga menikahnya itu
terpaksa, dipaksa atau memaksa,”jelasnya.
Terpaksa karena sudah hamil duluan, dipaksa karena menuruti kemauan
orangtua, atau memaksakan untuk menikah karena adanya suatu tuntutan.
Dipastikan itu akan menimbulkan yang namanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(KDRT).
Salah
satu pasangan yang sudah menikah menuturkan, bahwa pernikahan adalah hal yang
sakral dan harus dipertahankan sampai akhir hayat. “Bagi saya itu haruslah sehidup
sekali, namun wajar saja seorang suami memiliki lebih dari satu istri tapi
untuk alasan kebaikan. Kalau Cuma nafsu, ih ogah,” ucap Restini. Dia menuturkan
bahwa sewaktu pacarannya dulu memang sudah dimantapkan untuk serius menikah,
dan sejauh ini dia merasa masih adem ayem.
Pasangan
lainnya, mengatakan pernikahan itu sehat karena calon pengantinnya sama-sama
sehat. “Dalam artian sehat iman, sehat pikiran dan sehat hati,” ucap Rizki.
Dirinya mengaku dalam umur pernikahannya yang bisa dibilang sudah berumur 9
tahun ini, dirinya memang sering bertangkar dengan istrinya. Tapi salah satunya
pasti akan saling mengerti dan saling menginstropeksi diri dalam masalahnya
itu. “Bertengkar ya jangan sampai satu hari, tidak baik,” ucapnya.
Mindset lain yang banyak kita temukan di
nusantara ini adalah faktor sosiologis. Contohnya saja masyarakat Madura yang
sering menikahkan anaknya di usia muda, masyarakat Lombok yang biasa beristri
lebih dari satu, dan masyarakat DKI Jakarta yang sering nikah-cerai yang
berkali-kali itu sudah dianggap hal yang biasa. Itu disebabkan karena pola
pikir mereka yang sudah tertanam sejak dulu. Namun mindset tersebut bisa
dihilangkan dengan cara berfikirlah dengan jernih, dan apabila ada konflik
dalam hubungan itu mengalahlah salah satunya. (***)

