Kuliah pakai seragam, mahasiswa demo

Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bangkalan, Jawa Timur, menggelar unjuk rasa di kampusnya, Jumat (15/6/2012) sore menuntut  penghapusan komersialisasi di kampus serta beberapa kebijakan yang merugikan mahasiswa. Komersialisasi yang dimaksud mereka yakni diwajibkannya mahasiswa menggunakan seragam batik ke kampus, serta kenaikan biaya ujian akhir semester.


Dalam aksi yang mereka namakan Gerakan 15 Juni Mahasiswa Bersatu itu juga menuntut pembantu ketua III yang membidangi kemahasiswaan mundur dari jabatannya karena tidak mampu membina mahasiswa dan hanya mengambil keuntungan terhadap kegiatan kemahasiswaan.
Maskur, koordinator aksi dalam orasinya menyampaikan kampus yang dijalankan dengan prinsip bisnis hanya akan merugikan  mahasiswa dan memberikan keuntungan bagi segelintir orang saja. "Kami sudah bukan anak-anak TK/SD atau SMP dan SMA harus pakai seragam ke kampus. Hanya di kampus ini yang menerapkan aturan seragam kuliah. Sangat aneh kalau ada penyeragaman baju mahasiswa," katanya lantang.
Orasi sekitar 1 jam yang dilakukan mahasiswa tidak mendapat respon dari pimpinan kampus. Permintaan mereka agar ketua STKIP M. Hafidz keluar menemui mereka, tak digubris. Akhirnya mereka menyegel pintu utama kampus tersebut dengan rantai dan gembok besi. Akibatnya, ratusan mahasiswa dan dosen terkurung tidak bisa keluar dari gedung utama.
"Sampai kapanpun kami tidak akan buka segel ini kalau tidak ada satupun perwakilan pimpinan yang menemui kami," kata Maskur.
Setelah terjalin negosiasi keamanan kampus dengan mahasiswa, akhirnya M. Hafidz keluar menemui mahasiswa. Hafid mengatakan, kebijakan seragam batik bagi mahasiswa sudah berdasarkan pertimbangan yang cukup matang. "Kita tidak tahu siapa yang keluar masuk di kampus ini. Akibatnya banyak kehilangan di kampus ini. Baik aset kampus sendiri, ataupun kendaraan mahasiswa," terangnya.
Ditambahkan Hafidz, kenaikan biaya UAS yang jadi tanggungan mahasiswa, sudah berdasarkan kalkulasi biaya operasional. "Silahkan kalian kalkulasi sendiri biayanya. Tidak mungkin kami mengambil keuntungan dari hal-hal semacam itu," imbuhnya.
Penjelasan itu ditanggapi para mahasiswa dengan imbauan untuk meningkatkan keamanan. "Jika keamanan di kampus ini bobrok, jangan mahasiswa yang dikorbankan harus pakai seragam, tetapi satpam yang harus bertindak tegas," tandas Maskur.
Setelah terjadi dialog, akhirnya mahasiswa membuka segel rantai di pintu utama gedung kampus tersebut. Selama dua jam lebih, mahasiswa dan dosen terkurung di dalam kampus.

Postingan Populer